Minggu, 07 Oktober 2012

Sundari

Sebuah terompet jiwa
berdengung galau
di balik kelambu suci seorang babu

Dentuman remuknya jiwa
dan resonansi putus asa
terpapar di hati rapuhnya
yang berdurikan rumput banto

Maka,
wahai kamu yang pongah!
yang mengaitkan cincin di kuping
dan goresan tinta cina di sebatang badan,
kamulah yang hina itu!
menitipkan janin tanpa bapak!
mengkreasi mimpi buruk anak-anak!
menakar hidup seorang budak!

Rabu, 08 Agustus 2012

seperti ini memangnya cinta itu

bu, wang jajanku tak cukup beli terompah
nak, wang kertas udah habis bayar kontrakan
nengsih, mas kepingin beliinmu kalung emas
mas karyo, anak kita dan kebutuhan rumah tangga nomor satu
bu, tambalan seragamku lepas lagi
nak, jatah sekolah kepakai buat beli beras
nengsih, di kondangan mereka menutup hidung padamu
mas karyo, anggaran kupangkas untuk susu si mungil
bu,pak, tadi yang punya kontrakan marah-marah soal jemuran
nak, bu warsih memang begitu kalo bulan tua
nengsih, mereka butuh main ke monas
mas karyo, naik odong-odong saja mereka sudah bahagia
....................

ketika cinta bermuara di lautan janji,
saat itulah dua insan memadu kasih,
untuk seiya dan sekata,
untuk saling menghargai kekurangan,
untuk saling menangis dan tertawa,
dengan cinta itulah kehidupan dianggap tak susah.
maka, cinta seperti itu sekarang sudah susah diketemukan.
hanya dongeng-dongeng lah yang membuatnya ada.
tapi bukan disini.
bukan ditempat kita berpijak ini.
bukan dimana-mana.
karena cinta dan materi,
adalah pasangan yang tak bisa dipisahkan.
bahkan oleh sang waktu yang kejam sekalipun.

maka, kenangkanlah ini!


emisi keranda tak terlihat

ketika jutaan asap knalpot disemburkan ke angkasa
semasa itu padi tak lagi menguning
pepohonan menatap wajah langit yang kelabu dengan muram

angka kematian dibacakan di hadapan penguasa lokal
63 orang mati konyol setiap bulan
6.30 kendaraan berangkat
6.30 kendaraan bergerak pulang
lalu, ada warga yang menghirup toksik
mati di usia muda setelah dililit kanker

keberadaan gang-gang sempit pinggiran kota
kini mulai sumpek oleh polusi asap dan suara
kanak-kanak mereka menjadi tuli dan rentan TBC
bayi yang baru lahir divonis menderita kanker
kemudian orang-orang tua tewas diserang wabah lepra

aku duduk di atas batu
melamunkan perkara ini sendirian
lalu, datanglah kamu...
kamu yang kutahu punya motor tak bergigi
dengan lantang kamu berkata merasa gagah
motor itu terus saja kau geber penuh penghayatan

melihat itu,
aku menjadi marah dan memakimu babi
lalu seketika pula kamu terjatuh dari motormu
karena tergelincir kotoran anjing



Imperium Gelandangan

gelandangan berbaris di pinggir jalan
gelandangan berzikir di bawah rembulan
gelandangan berkomunikasi sesamanya di bawah jembatan
gelandangan mengundang kita tapi kita tak datang
gelandangan tersenyum ke kita namun kita geram

gelandangan mendidik putra-putri mereka,
dengan sebuah karung dan sebatang kayu berkait
meski tanpa tahu kemana harapan akan dikaitkan

gelandangan berselimutkan terik mentari
gelandangan berpacu dengan waktu tanpa tahu tujuan
gelandangan memakai piyama dari goni
gelandangan berteriak HORE di tepi kali

gelandangan adalah sesepuh bumi
yang tabah akan cobaan
yang akrab dengan debu jalanan
dan cucuran air mata mentari

gelandangan adalah populasi tanpa sukma
gelandangan adalah aparat pengendali sampah
gelandangan adalah janji yang tak kesampaian

gelandangan adalah metamorfosa pengkhianatan
gelandangan adalah puisi yang telah koyak-moyak
gelandangan adalah jalur yang dicegat

gelandangan mengusung mimpi mereka dengan karung-karung sampah
gelandangan mengarungi lautan waktu tanpa alas kaki
gelandangan menyimpan dendam pada penguasa
gelandangan bersimpati pada kita, tapi kita ingkar


lalu, regenerasi gelandangan memang tak akan ada habisnya.


Perempuan Di Meja Kasir

aku melihat perempuan dipojok meja kasir
wajahnya gelap
segelap hatiku yang dihancurkan waktu
di matanya ia mungkin bertanya
lalu kucoba terka apa yang ia tanya

mungkin begini :
hariku semrawut di meja antrian
tidur pendekku dicopet rupiah minim
sementara stok mie instant mulai redup
apakah mimpiku telah dicegat?
oleh apa yang kubelum kuketahui

lalu, kurogoh duit membayar jajanku
sambil padanya kusematkan kata :
" ucapkan salam pada kutang usangmu,
kamu adalah tipuan zaman, sodariku.
mimpimu tidaklah sirna.
karena, kutahu kau belum tidur "




Hidup Seperti Buah Semangka