Rabu, 08 Agustus 2012

Imperium Gelandangan

gelandangan berbaris di pinggir jalan
gelandangan berzikir di bawah rembulan
gelandangan berkomunikasi sesamanya di bawah jembatan
gelandangan mengundang kita tapi kita tak datang
gelandangan tersenyum ke kita namun kita geram

gelandangan mendidik putra-putri mereka,
dengan sebuah karung dan sebatang kayu berkait
meski tanpa tahu kemana harapan akan dikaitkan

gelandangan berselimutkan terik mentari
gelandangan berpacu dengan waktu tanpa tahu tujuan
gelandangan memakai piyama dari goni
gelandangan berteriak HORE di tepi kali

gelandangan adalah sesepuh bumi
yang tabah akan cobaan
yang akrab dengan debu jalanan
dan cucuran air mata mentari

gelandangan adalah populasi tanpa sukma
gelandangan adalah aparat pengendali sampah
gelandangan adalah janji yang tak kesampaian

gelandangan adalah metamorfosa pengkhianatan
gelandangan adalah puisi yang telah koyak-moyak
gelandangan adalah jalur yang dicegat

gelandangan mengusung mimpi mereka dengan karung-karung sampah
gelandangan mengarungi lautan waktu tanpa alas kaki
gelandangan menyimpan dendam pada penguasa
gelandangan bersimpati pada kita, tapi kita ingkar


lalu, regenerasi gelandangan memang tak akan ada habisnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar